Semoga Sinergi Kolaborasi Tidak Pernah Mati

*Harapan untuk Pergerakan Komunitas di Makassar

 

Hujan di penghujung Mei di tahun 2014 menjadi salah satu hari yang berkesan bagi saya. Mungkin tidak cuma saya, beberapa penggiat komunitas Makassar juga merasakan yang sama. Hari itu, kami dipertemukan dalam perhelatan Pesta Komunitas Makassar (PKM). Ajang bertemu, berjumpa dan berkumpul kurang lebih 75 komunitas se- Makassar.

Dua hari perhelatan Pesta Komunitas Makaassar, 24-25 Mei 2014 di Monumen Mandala, bukanlah event kolaborasi pertama yang saya ikuti. Tapi itulah yang terbesar. Saya jadi mengenal banyak komunitas. Mengetahui bahwa ternyata ada banyak gerakan dan komunitas keren di Makassar. Tidak hanya komunitas tempat saya bergeliat selama ini, tapi ada puluhan komunitas lain. Dari yang hanya pernah sekali dua kali saya dengar namanya, bahkan ada yang asing sama sekali.

Di PKM 2014, saya akhirnya tahu kalau ada komunitas yang bergerak di bidang social serupa Sahabat Indonesia Berbagi (Sigi), Komunitas Pencinta Anak Jalanan (KPAJ) ataupun komunitas kreatif Paper Craft Indonesi (Peri) atau juga komunitas yang peduli pada pemeliharaan hewan, khususnya aning seperti Doglicious.

Saat itu, saya  juga berkenalan dengan beberapa  penggiat komunitas, ada  Dhila Yaumil, kepala sekolah Akademi Berbagi Makassar, komunitas yang menyediakan kelas belajar secara gratis yang terbuka untuk siap saja. Pengajarnya adalah  para pakar mumpuni di bidangnya.

Selama ini saya sudah sering mendengar komunitas di atas. Tapi berinteraksi langsung dan mengenal beberapa anggotanya secara personal menjadi kali pertama bagi saya.  Saat di PKM 2014, saya tergabung dalam bagian kelas kolaborasi yang dikordinasi oleh kak Dhila Yaumil.

Menikmati PKM 2014, berkenalan dan berinteraksi dengan berbagai jejaring komunitas, membuat saya ketagihan untuk kembali terlibat di pesta komunitas berikutnya.

 

1502520442035
Pesta Komunitas 2014

.

Dan ya, setahun setelahnya, keterlibatan saya di ajang PKM ini semakin dalam. Saat itu saya dipercayakan untuk mengkordinir tim fundraising. Ini adalah pengalaman yang kembali baru untuk saya. Tidak hanya sekedar berinteraksi dengan masing-masing panitia yang berasal dari komunitas beragam, tapi juga harus turut mempersiapkan acara, menyiapkan pendanaan . Secara garis besarnya turut berkolaborasi, bekerja sama dalam tim kepanitiaan.

Kurang lebih 3 bulan persiapan PKM, merasakan suka duka bersama antar panitia. Rapat-rapat yang kami lalui tidak mengenal waktu. Biasa pagi, siang , sore, malam hingga pagi kembali. Beberapa dari kami di dalam kepanitiaan juga baru saling kenal, tapi tidak menjadi penyurut untuk kami bersama-sama mempersiapkan PKM 2015 di kala itu.

Kami semua sadar, bahwa mempersiapkan PKM bukan lagi tentang identitas komunitas semata, tapi sebagai bagian dari PKM yang ingin melihat kegiatan ini sukses. Ini menjadi pemantik rasa kebersamaan bagi kami. Bagaimana bekerja bersama, berkolaborasi untuk event se-keren PKM.

PKM 2015
PKM 2015 di Benteng Rotterdam Makassar

Seperti yang dirasakan Sri Sumarni Sjahril. Saat itu Sri yang mengetuai Sobat Budaya Makassar , terpanggil untuk melibatkan diri menjadi bagian dari PKM 2015. Menurutnya ini adalah bentuk kolaborasi keren dari anak muda Makassar yang tidak hanya membuka mata orang luar, bahwa anak muda Makassar kreatif dan peduli dengan lingkungannya, tapi turut membuka matanya sendiri.

“Akhirnya kita jadi saling tau komunitas-komunitas di Makassar. Ternyata ada komunitas ini, ada komunitas itu yang kegiatannya keren-keren. Kalau tidak bergabung di PKM, mana mungkin kita jadi kenal mereka, atau bikin kegiatan bareng-barengki sama mereka,” katanya.

Sri Sumarni benar. Dari bingkai komunitas yang tergabung dalam kepanitiaan PKM bisa disaksikan ada beragam kelompok komunitas.  Kategori komunitas yang peduli social dan pendidikan seperti KPAJ, Sobat Lemina,  Penyala Makassar, 1000 Guru, Makassar Berbagi, juga Sahabat Indonesia Berbagi dan tentu masih banyak yang lain. Komunitas saya, Makassar Berkebun adalah satu komunitas yang keanggotaannya diisi oleh anak-anak muda yang peduli pada lingkungan. Beberapa komunitas lingkungan lainnya ada Sobat Bumi, Earth Hour, Koalisi Pemuda Hijau dan Trees Life. Selain itu, ada juga komunitas dari kategori hobi kreatif, pencinta hewan dan onliners.

Tentu, tugas kolaborasi tidak selesai di PKM saja. Dari perkenalan dan saling berinteraksi,  menjadi harapan semua pihak bahwa setiap komunitas yang terlibat akan menjalin sinergi dengan komunitas lainnya dalam berbagai bentuk kolaborasi. Sesungguhnya PKM hanya pemantik api semangat berkomunitas, kegiatan-kegiatan kolaborasi pasca PKM lah yang akan menjaga api tersebut. Memberi nafas pada pergerakan komunitas se-Mkassar.

Sadar dengan itu, terciptalah berbagai kegiatan kolaborasi pasca PKM. Di tahun 2014 ada aksi Melawan Asap yang dikordinasi oleh Apphy dari komunitas travelling Pajappa. Kegiatan ini merupakan bentuk aksi tanggap sosial atas peristiwa darurat asap yang melanda beberapa provinsi di pulau Sumatra dan Kalimantan, akibat kebakaran hutan di wilayah tersebut. Dari berbagai aksi penggalangan dana kreatif yang dilakuakn, sejumlah paket masker berhasil dikirimkan, yang menjadi wujud dari kepedulian anak muda di Makassar. Tercatatat 17 komunitas lintas kategori bergabung untuk aksi tersebut, di antaranya Berbagi Nasi, Makassar Berkebun , Pajappa, Blogger Anging Mammiri dan Makassar Berbagi.

Pun di tahun 2016, memperingati hari bumi, beberapa komunitas peduli lingkungan menggelar peringatan Hari Bumi bersama. Kegiatan yang tidak hanya menjalin kekompakan antar aktifis lingkungan Makassar, tapi juga berusaha menyadarkan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga lingkungan saat ini juga. Selain itu, digelar pula Silaturahmi Bersama antar komunitas travelling yang diikuti 48 komunitas.

Di tahun sebelumnya, tahun 2015, juga ada  kegiatan Kemah Bakti di Desa Ara Kabupaten Maros yang dinisiasi oleh 10 komunitas lintas kategori. Kegiatan edukasi untuk siswa sekolah dan pemeriksaan kesehatan untuk masyarakat setempat menjadi beberapa agenda dari Kemah Bakti ini.Serta  kegiatan Pentas Anak Makassar dan Piknik Ceria yang sama-sama digelar oleh komunitas kategori sosial edukasi yang secara berturut-turut digelar di tahun 2015 dan 2016. Di kategori ini sendiri, 86 komunitas tergabung di dalamnya.

Muthmainnah Bahar, penggiat komunitas dari Hijabers Makassar merasakan perbedaan yang terjadi pada dirinya sebelum dan sesudah terlibat di Pesta Komunitas. Bagi Muthmainnah, bekerja bersama penggiat-penggiat komunitas lain selama di PKM mengajarkannya untuk selalu bersikap terbuka, berbaur dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang usia dan profesi. Di sini dia juga belajar untuk terus menumbuhkan kreatifitas, seperti apa yang dilakukan oleh penggiat komunitas lain.

“Di PKM memberi motifasi kepada saya untuk terus kreatif dan berprestasi, seperti yang dilakukan komunitas lain. Saya juga jadi lebih peka dan bersahabat dengan anggota komunitas sosial, edukasi, pencinta hewan dan lingkungan,” kata Muthmainnah yang juga pernah menjabat sebagai ketua komunitas Hijabers Makassar.

DSC00330.JPG
Pentas Anak Makassar 2015

Entah disadari atau tidak, pengalaman interaksi selama di PKM, sekecil apapun bentuknya telah menciptakan lintasan memori antar panitia—dari panitia yang satu ke panitia yang lain. Juga  antar komunitas—dari komunitas yang satu  dnegan komunitas lain. Oleh itu, penting adanya untuk menciptakan iklim kondusif di dalam kepanitiaan. Beruntunglah hal itu masih tetap terjaga hingga kini. Pun yang menjadi harapan, pemerintah terus mengambil andil di dalamnya, mendukung pergerakan anak muda kreatif ini.

Dari sana memberi pemahaman untuk saya pribadi, bahwa kehadiran PKM sangat  penting adanya. Telah menorehkan sebuah sejarah baru dalam pergerakan di masyarakat dalam berbagai bidang, anak muda, seni, budaya dan kreatif , juga bisa ditilik dari aspek-aspek yang lain.

Di lingkup yang lebih luas lagi, sangat perlu menciptakan suasana positif dalam iklim pergerakan komunitas di Makassar. Semangat ini yang menjadi pekerjaan rumah untuk orang-orang yang terlibat di dalam PKM. Sinergi kekompakan antar penggiat yang terwujud dalam kegiatan kolaborasi akan menjadi tolak ukur kesuksesan PKM. Keberhasilan penyenggaran pesta komunitas ini tidak hanya dilihat seberapa euphoria dalam dua hari perayaannnya, tapi seberapa banyak kolaborasi yang terlaksanana setelahnya.

Ya, Pesta  Komunitas bukan hanya menjadi ajang tampil, tapi menjadi ajang penguat. Berkenalan, berinteraksi, merayakan kebersamaan dalam euphoria, kemudian menjaga api sukacita itu esok hari dalam kegiatan kolaborasi.

Semangat kolaborasi yang harus terus ditularkan. Tentu yang kita inginkan bersama, bahwa komunitas tidak bergerak sendiri, melainkan saling gandeng, bergerak dan bergotong royong untuk melakukan berbagai hal-hal positif di berbagai bidang, untuk Makassar, lingkungan dan masyarakat luas.

1501840421155
Rangkaian Pelaksanaan Hari Bumi 2016 di SMPN 21 Makassar

Satu hal lagi yang menjadi catatan penting untuk pergerakan komunitas, yakni regenerasi.  Di hari ke depan, selalu lahir generasi-generasi baru penggerak komunitas . Akan selalu ada penggiat-penggiat baru sebagai pelanjut tongkat estafet. Baik  dalam segi kecil PKM, ataupun dalam skala besar di lingkaran pergerakan komunitas di Makassar.

Karenanya, dukungan dalam setiap gerakan ataupun aksi kolaborasi harus diberikan kepada mereka. Generasi sebelumnya patutlah bersikap sebagai ‘kakak’, memberi arahan, petunjuk dan nasehat kapada ‘adik’nya. Sebagai satu ikatan keluarga penggiat komunitas Makasaar wajiblah kiranya kita saling dukung, saling sokong untuk kemajuan bersama.

Karena bukankah tujuan kita semua sama, baik yang pernah, ataupun pada akhirnya mememutuskan mundur dari pergerakan PKM, bahwa Makassar akan selalu diisi dengan berbagai hal-hal positif dari anak-anak mudanya. Dari mana kita melahirkan hal-hal tersebut kalau bukan dari sinergi dan kolaborasi sesama warga Makassar. Untuk tujuan ini, mari kita bekerja bersama. Tetap dalam lingkaran pergerakan komunitas. Sekecil apapun kiprah yang kita persembahkan, setidaknya memberi arus positif untuk komunitas, untuk kota Makassar, atau kalau tidak dikatakan berlebihan, yang kita lakukan berdampak untuk kemaslahatan umat.

Ya, semoga tetap begitu. Oleh itu, mari kita berharap, di kota Makassar ini semoga sinergi kolaborasi komunitas tidak pernah mati.

 

#KomunitasMakassar

#PestaKomunitas Makassar #PKM2014 #PKM2015 #PKM2016 #PKM2017