Bersenang Tenang di Rhapsody Cafe

Ashampoo_Snap_2016.01.25_21h52m25s_001_
(Gambar diambil @rhapsodycoffee)

An effusively enthusiastic or ecstatic expression of feeling.

Itulah yang dideskripsikan Oxford Dictionaries sebagai arti kata rhapsody. Rasa antusias atau perasaan gembira yang sangat besar.

Suasana masih sangat lengang saat saya tiba di halaman Rhapsody Cafe. Empat meja persegi di halaman depan yang masing-masing sisinya dikelilingi kursi, semuanya masih kosong. Berbeda jauh dengan pemandangan di jalan, riuh oleh deru kendaraan saling berebut jalan.

Sore itu, jalan Perintis Kemerdekaan Makassar sedang mecet-macetnya. Sejak keluar dari area kampus Unhas (Universitas Hasanuddin), kemacetan sudah mengular panjang. Wajar saja, hari ini adalah Jumat. Jelang weekend jalanan di Makassar akan berkali lipat macetnya. Saya sedang tidak terburu-buru untuk tiba di rumah. Lagipula tiga puluh menit lagi jelang Maghrib. Sangat mustahil memecah kemacetan sepanjang Perintis hingga kawasan Veteran Selatan dalam waktu sesingkat itu dengan macet membabi buta.

Dari pada merutuk kemacetan sepanjang jalan, karenanya melipir ke kafe adalah pilihan paling masuk akal saat itu. Saya hanya ingin mengakhiri Jumat yang cukup riuh sejak pagi dengan manis, duduk tenang menyeruput kopi.Bukan dengan terjebak di tengah pekik kendaraan, dan klakson menyahut di kanan kiri. The coffee  time after on duty.

Tidak sulit menemukan Rhapsody Cafe. Meski berada di dalam komplek ruko, tapi dari sisi jalan Perintis Kemerdekaan kita bisa menemukan papan plangnya. Cukup mencolok, meskipun hanya didominasi warna hitam putih. Kalau tidak ingin lebih ribet lagi, cukup ingat, kafe ini bersisian dengan kampus Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (STMIK) Dipanegara Makassar.

Menyambut kedatangan saya, Adele baru saja memulai refrain  Rolling on The Deep. Persis ketika saya membuka gagang pintu yang terbuat dari kaca. Sisi depan Rhapsody adalah partisi kaca tembus pandang. Jadi meskipun masih di halaman parkir, jumlah orang di dlaam kafe sudah bisa tertebak, tidak lebih dari sepuluh orang. Bersama Ime, kawan yang menemani ngopi sore cantik, saya memilih meja paling pojok.

Pilihan saya tidak salah untuk melipir ke Rhapsody sore itu.Dari sepuluh, hanya ada dua pengunjung yang telah mengisi dua meja di sisi kanan. Sementara lebihnya adalah karyawan dan pemilik kafe. Cukup tenang, mungkin ini karena jam jelang petang. Biasanya pengunjung kafe yang datang sejak siang sudah beranjak pulang, mungkin menghindari macet jelang petang. Sementara pengunjung yang biasanya memadati Rhapsody hingga jelang tutup, belum datang. Masih terjebak macet di jalan bisa saja.

Ashampoo_Snap_2016.01.25_21h56m32s_003_
Meja dan kursi ditata menciptakan kesan terbuka. Tanpa sekat antara barista dan customer. (Gambar diambil di @rhapsodycoffee)

 

Jika anda tidak tahu harus memulai dari mana, cobalah dengan secangkir kopi (Edi Panggabean)

Sajian produk, apalagi kopi adalah andalan bagi Rhapsody. Sejak  tahun 2012 ketika masih berkonsep ala warung kopi, kemudian berganti konsep menjadi coffee shop. Dari Oktober 2015 hingga sekarang.

Bagi sang pemilik, Trijaka Perkasa, kopi diibaratkannya sebagai minuman dari surga. Melibatkan rasa dan mengidentikkan jiwa pembuatnya. Karenanya mutu kopi diperhatikan sedetail mungkin di sini. Hanya menghadirkan biji-biji kopi terbaik bermutu tinggi. Di Rhapsody, sajian kopi juga tergolong lengkap, dari manual brewing,latte, v60, hingga espresso.

Sang pemilik percaya, image brand akan mengikut terhadap kualitas produk. Karenanya ia juga menggunakan standar tinggi untuk kualitas sajian di kafenya, baik makanan maupun minuman. Meski merupakan coffeeshop, di sini tidak hanya kopi yang disajikan, beberapa racikan minuman lain berupa jus, teh dan blend juga ditawarkan. Tidak ketinggalan makanan pendamping.

Selain menjaminkan kualitas produk sajian, Rhapsody juga mengandalkan kualitas barista yang berada dibalik meja bar. Ini yang diamini sang pemilik, seorang barista mestinya tidak hanya andal dalam meracik minuman, tapi juga tahu tentang apa yang disajikannya. Ilmu kopi mesti dipahami, mulai dari hulu hingga ke hilirnya, ini guna memudahkan barista dalam menakar komposisi yang tepat untuk masing-masing pengunjung. Hasilnya, setiap pengunjung merasa puas dengan minuman yang disajikan. Ketika puas, rasa senang dan bahagia akan muncul di hati mereka. Persis seperti apa yang diharapkan dari pemberian nama Rhapsody. Memberi kesenangan di hati setiap pengunjungnya.

Di Rhapsody, sambil menunggu minuman pesanan, pengunjung bisa langsung menyaksikan pembuatan minuman, tanpa perlu meninggalkan kursi. Interior ruangan yang artistik dan hommy, memang telah didesain sedemikian rupa untuk memberi kesan terbuka. Meja dan kursi ditata mengelilingi tiga sisi ruang, di tengahnya lah disisipkan meja bar. Ini memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara barista maupun customer.

Bila ingin menyaksikan lebih dekat, bagaimana barista memasukkan kopi ke mesin grinder ataupun saat melakukan pouring, jangan ragu, hampiri saja meja barnya. Enam kursi kayu memang sengaja diletakkan di depan meja bar. Sambil menunggu minuman pesanan selesai diracik,kita bisa memulai obrolan di sana. Tentang minuman yang kita pesan, ataupun mengomentari beberapa varietas kopi di dalam toples tembus pandang yang diletakkan berjejer di atas meja bar. Pihak Rhapsody menginginkan adanya sharing knowledge tentang setiap kopi yang dipesan.

“Bisinis itu bukan hanya jualan, tapi juaga harus mencerahkan,” ucap Jaka, begitu biasanya sang pemilik kafe disapa.

Ashampoo_Snap_2016.01.25_21h55m24s_002_
Wadah berisi kopi dijejer di atas meja bar. Memudahkan customer memilih sendiri jenis kopi yang ingin dinikmati. (Gambar diambil di @rhapsodycoffee)

Menjadikan produk makanan dan minuman sebagai perhatian utama, tidak menjadikan Rhapsody meneyepelekan kehadiran fasilitas penunjang di dalam kafe. Semuanya diperhitungkan secara seksama. Berada di lingkungan sekitaran kampus, pihak Rhapsody sadar tempat ini akan menjadi pilihan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas dan beberapa pekerjaan lainnya. Karenanya penerangan diatur cukup terang, bukan remang-remang ala kafe pada umumnya. Selain itu koneksi wifi yang disediakan cukup kencang. Tinggi kursi dan meja juga diperhitungkan agar tetap membuat nyaman saat mengetik di atas laptop, menulis ataupun mengerjakan sketsa di atas kertas gambar.

S__14934039
Selain tempat hangout, Rhapsody Cafe juga menjadi pilihan untuk menyelesaikan tugas. (Dok. Pribadi)
S__14934056
Salah satu tanaman yang menghiasi sudut ruang Rhapsody Cafe (Dok.Pribadi)

Tujuh pot tanaman diletakkan di sisi kiri ruangan hadir mempermanis suasana. Semacam antitesa untuk Rhapsody yang didominasi hitam dan putih. Ornamen daun juga disematkan di beberapa bola lampu untuk mempercantik suasana. Mural peta dunia di dinding kanan, serta grafiti di sepanjang sisi partisi kaca membuat nuansa Rhapsody semakin menyenangkan. Menjauhkan kesan membosankan, sekaligus bisa merelaksasi mata.

Selain di lantai satu, Rhapsody juga menyediakan areanya di lantai dua untuk para customer. Lantai dua dikhususkan untuk area merokok, ataupun komunitas yang ingin mengadakan kegiatan bersama. Seperti malam itu, ada bazar komunitas di lantai  dua. Meski bazar komunitas dihelat malam itu, pengunjung yang sebelumnya telah berada di lantai satu tidak perlu merasa terganggu. Privasi dan ketenangan mereka masih tetap terjaga.

Tanpa sadar, dua gelas kopi berupa Ice Americano dan Ice Vietnam Coffee sudah saya habiskan. Waktunya pulang. Teman saya Ime yang sedari awal menemani juga mesti pulang. Meski niat awalnya hanya ingin melipir sebentar saja, menghindari macet, ternyata saya telah menghabiskan waktu lebih dari tiga jam lamanya di sana. Ber-rhapsody ria.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s