Perjalanan Menjadi Kesatria

IMG_20150205_124518
View Pelabuhan Tanjung Bira dari Puncak Pua Janggo, Bulukumba

“Adakah yang lebih kesatria selain orang yang melakukan perjalanan?”

Pertanyaan itu dilontarkan Sani sesaat sebelum kami meninggalkan Masjid Islamic Centre Dato Tiro Bulukumba. Kami baru saja menunaikan salat Ashar di masjid yang sore itu sedang ramai oleh pengunjung. Di halaman masjid sedang digelar pameran pembangunan dalam rangka ulang tahun daerah itu yang ke 55.

Setelah berpikir sejenak, saya hanya mengangkat bahu.

Melihat saya menyalakan starter motor, Sani yang awalnya ingin melanjutkan obrolan mengurungkan niatnya. Diam saja, dia naik di jok belakang.

Sore itu adalah hari terakhir kami di Kabupaten Bulukumba setelah perjalanan menyusuri daerah yang terkenal dengan wisata pantainya itu. Karena wisata pantainyalah yang membuat saya dan Sani memutuskan untuk melakukan perjalanan. Sebuah trip dadakan guna menemukan The Hidden Paradise, pantai-pantai yang belum familiar di kalangan wisatawan, setidaknya yang belum setenar Tanjung Bira.

Sani adalah kawanku sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama di Sinjai. Bersama Sani, saya kerap melakukan perjalanan mengejutkan. Seperti yang baru saja kami tunaikan saat itu selama tiga hari di Bulukumba.

Senin, 2 Februari 2015, matahari sedang berkemas sebentar lagi akan pulang saat kami tiba di Pantai Samboang. Sebuah pantai yang jaraknya sekira 42  km dari kota Bulukumba. Tidak ada kemeriahan seperti yang saya dan Sani bayangkan di kepala. Bayangan ini yang membuat kami berani menempuh jarak Makassar-Bulukumba sejauh 153 kilometer hanya dengan menggunakan kendaran roda dua. Berdua saja, perempuan.

Saat itu, mestinya hari kedua pagelaran Festival Datu Tiro. Sebuah festival budaya internasional yang digelar di pantai Samboang. Tapi jangankan disambut tari-tarian, musik ataupun tenda-tenda khas sebuah pagelaran festival,  tidak tersisa jejak keramaian sedikitpun. Bersih.

“Tidak salaah pantai ja ki ini kah?” Saya mencoba meyakinkan diri. Bertanya kepada Sani.

Jangankan ke pantai ini, ke Bonto Tiro, kecamatan di mana Samboang berada belum sekalipun kami kunjungi. Kami hanya tahu Bonto Tiro berada di selatan Bulukumba. Itupun hanya hasil berpetualang google maps. Bisa tiba di pantai inipun hanya mengandalkan idiom, malu bertanya sesat di jalan.

Ternyata festival sudah selesai sejak siang tadi. Kami terlambat beberapa jam. Informasi itu kami dapatkan setelah menanyai seorang pemuda di pinggir pantai.

Tidak ingin kesal berlarut-larut, Sani memutuskan mengeluarkan kamera dan peralatan tongkat narsis dari tas punggungnya. Melihat kamera, sayapun sumringah. Kami mencoba menyingkirkan kesal perihal festival Dato Tiro dengan mengambil beberapa gambar di pinggir pantai. Tentunya, setelah menurunkan backpack berukuran 15 liter yang telah melekat betah di bahu selama enam jam perjalanan.

Tengah asik mengambil gambar, mata kami tiba-tiba tertuju ke seorang laki-laki paruh baya yang sedang menambatkan perahunya di pinggir pantai. Kami menghampirinya. Rupanya lelaki yang kemudian mengaku bernama Puang Beddu baru saja pulang dari mengecek keramba miliknya. Keramba adalah sebuah penangkaran ikan yang diletakkan di tengah perairan guna menangkarkan ikan. Sistem ini biasa digunakan di laut lepas.

Di tengah obrolan, Puang Bedu menawarkan diri dan perahunya untuk mengantar kami berkeliling pantai. Tanpa kami minta sebelumnya. Saya tidak langsung mengiyakan, pun Sani. Di kepalaku saat itu, bagaimana kalau lelaki yang di hadapan kami ini rupanya perampok? Bisa saja dia berpura-pura seolah akan mengantar, membawa kami ke tengah pantai, merampok. Kemudian meninggalkan kami di sana. Bahkan saya masih sempat memikirkan kemungkinan terburuk, dibunuh di tengah pantai.

Sani rupanya mampu membaca pikiranku. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia mencoba meyakinkanku. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tenanglah,” seperti itu pesan yang coba disampaikan Sani dari raut wajah dan sorot matanya.

Kami percaya sepenuhnya kepada Puang Bedu untuk mengantarkan kami berkeliling pantai menggunakan perahunya. Di tengah pantai, kami diajak menyambangi makam Raja Tiro Pertama yang terletak di bibir tebing.

IMG_20150202_181930
Pemandangan Pantai Samboang dari Atas Tebing

Curiga dan takut berlebihan bila didewakan, tidak akan pernah mampu membawa kami menuju Pantai Mandala Ria, Kalukku, Bara, Apparalang, pantai Lemo-lemo atapun Puncak Pua Janggo, di sana cara baru menikmati Pantai Bira dari atas bukit kami dapatkan. Rasa curiga tidak masuk akal yang untungnya berhasil dienyahkan Sani dari dalam kepalaku.

Kupikir, Sani bukannya tidak pernah merasakan ketakutan. Tapi dia selalu berhasil berpikir dan bersikap tenang, guna memerangi ketakutan yang tumbuh di dalam dirinya.

“Kau iyya, nda takut kah, San?”

“Bukan ndak takut, tapi kalau begitu toh, cobami membuka diri. Tapi tetap waspada,” lanjut Sani.

 

Tapi menyingkirkan ketakutan bukan berarti tidak memperhitungkan resiko.

 

Menemukan sebuah gua di perjalanan pulang dari Pantai Apparalang, menantang nyali kami untuk menyusurinya. Kalau dari gerbang pantai, gua ini berada di sisi kiri . Setelah menepikan kendaraan dari pinggir jalan, saya dan Sani mencoba mencari mulut gua. Setibanya di mulut gua, Sani mencoba melongok ke dalam sebentar. Dia tertegun beberapa saat, kemudian berbalik mengajak pulang.

“Nda mungkinki turun. Curam sekali di bawah, nda bawaki apa-apa. Head lamp, tali pengaman. Beresiko sekali,” katanya sambil berteriak. Posisinya sekira 10 meter di depanku.

Mendengar ucapan Sani, saya malah menyusulnya. Memang sangat curam. Sani menjelaskan kemungkin rute, tidak ada peluang sama sekali untuk turun. “Biar pakai sandal gunung, masih bahaya sekali,” lanjutnya.

Trip selanjutnya pi, kita khususkan wisata caving,” ucapku menghibur diri.

Informasi yang kudapatkan dari Bapak Muhannis, Bulukumba memang memiliki banyak gua-gua eksotis. Tidak kalah eksotis dari pantainya.

 

Melakukan perjalanan harus siap dengan segala konsekuensi. Menerima kekecewaan salah satunya.

 

Kami mendapatkan pelajaran ini setelah gagal ke Pulau Liukang. Sebuah pulau cantik di Bulukumba yang juga menjadi lokasi penangkaran penyu. Kencangnya angin muson berhasil menyurutkan nyali para pemilik kapal untuk mengantarkan kami ke Liukang. Dua hari berturut-turut kami mencoba.

Dua hari berencana menyeberang ke Pulau Liukang, itu berarti dua hari itu kami harus menyambangi Tanjung Bira.  Seperti yang kukatakan sebelumnya, kami tidak memasukkan Tanjung Bira dalam daftar destinasi kami selama di Bulukumba. Tapi,apa mau dikata satu-satunya akses menuju Liukang, harus melalui Tanjung Bira. Kami menerima permainan semesta. Dua hari berturut-turut tertahan di Tanjung Bira.

Sani benar. Belajar dari semua perjalanan yang kami lakukan, satu modal paling utama yang harus selalu dipegang, keberanian. Para pejalan adalah orang-orang berani, berjiwa kesatria menghadapi apapun, ketakutan, kekecewaan hingga kejutan.

Kalau begitu, masih adakah yang lebih kesatria dari para pejalan?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 5: Jelajah Sulsel“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID

IMG_20150205_184513
Sani dan Saya Sesaat Sebelum Meninggalkan KAbupaten Bulukumba
IMG_20150203_142629
Serasa Pantai Milik Sendiri – Pantai Lemo-lemo Bulukumba

 

Iklan

One thought on “Perjalanan Menjadi Kesatria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s