Cemas Ibu dan Teror Paris

Saat hujan turun, ibuku menjadi yang paling cemas di rumah. Bukannya memilih tidur lelap di kamarnya atau berlindung di balik selimut saat hawa dingin yang ditawarkan oleh hujan lebat. Ibuku memilih menumbuhkan kecemasan dalam dirinya. Satu per satu kamar akan diperiksa, mencari tahu keberadaan anak-anaknya. Memastikan kami semua berada di rumah. Baru setelah itu dia merasa tenang. Aman.

Pernah suatu waktu, di penghujung Agustus. Saat musim penghujan menuju puncaknya. Hujan tidak henti-hentinya turun sejak pelajaran pertama dimulai, hingga lonceng terakhir selesai dibunyikan dari ruang guru hari itu. Aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas III sekolah dasar, mendapati hujan sepulang sekolah senang bukan kepalang. Sumringah. Kulepas sepatuku, bersama beberapa kawan, aku berlari hingga keluar gerbang. Tidak peduli seragam, tas sekolah bahkan buku-buku kami yang ada di dalamnya.Di kepalaku hanya satu, bermain di bawah hujan. Ibu yang cemas bukan kepalang di rumah menungguiku tidak terlintas sedikitpun. Baru setelah pulang ke rumah, aku sadar dengan kehadiran ibu, termasuk kecemasan dan ketakutannya yang dilampiaskan melalui omelan panjang juga cubitan di pahaku. Ibu marah besar.

*Tujuh hari yang lalu.

“Paris dibom,” kata Tari, sahabatku.  Mataku belum membuka benar.

“Dibom?” Aku masih menggeliat, mencoba mencerna kata-kata Tari, kesadaranku belum pulih benar. Malam sebelumnya aku menumpang tidur di kamar Tari.

“Iyya subuh tadi. Serangan ISIS katanya,” hanya sekali gerak aku langsung mengambil hape yang sepanjang malam terecharge di sisi ranjang.

Tagar #PrayforParis mulai ramai di media sosial. Beberapa situs media daring terus mengabarkan sejak awal kejadian. Sekitar pukul 10 malam waktu Paris hingga 5 jam kemudian, saat aku terbangun di kamar Tari. Paris terguncang. Setelah mengirimkan beberapa pesan singkat via whatsapp kepada beberapa orang yang kukenal di Paris, aku terdiam di sisi ranjang.

Masih dari media daring, kudapatkan informasi bahwa dua ledakan bom bunuh diri terjadi di luar stadion State de France. Saat itu Perancis sedang menjamu Jerman dalam sebuah laga persahabatan sepakbola. Di saat hampir bersamaan, insiden penembakan juga dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal di stadion konser Bataclan. Sementara lokasi penembakan lainnya terjadi di lima restaurant berbeda di kota Paris.

Pikiranku langsung tertuju ke seorang ibu penjaga bar di salah satu restaurant di jalan Boulevard Haussmann. Aku mencemaskannya.

Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia masih hidup saat ini, tidak menjadi korban teror? Atau, meskipun ia selamat, apakah keluarganya tidak ada yang menjadi korban? Apakah anak dan cucunya aman di rumah saat pelaku penembakan secara membabi buta menembaki siapa saja di beberapa restaurant di Paris?

Masih dengan ponsel di tangan, kucoba mencari tahu kelima lokasi restaurant tempat penembakan. Aku menarik nafas lega, dari kelima tempat itu tidak satupun kutemukan tulisan Select Haussmann. Tapi, dua restoran tempat penembakan berada di distrik 11, tidak jauh dari blok Boulevard Haussmann. Kembali aku cemas.

Ibu itu berbeda dari ibu kebanyakan yang kudapati selama ini. Tubuhnya menjulang tinggi dan besar, bahunya lebar. Bentuk fisiknya condong seperti lelaki. Rambutnya dipotong persegi tepat di atas tengkuknya. Ia masih tergolong sangat cekatan untuk kategori perempuan seusianya, di atas kepala enam. Jangankan sekadar menjaga bar, bepergian ke mana-mana ia mengaku masih sanggup melakukannya sendiri.

Tipikal orang Eropa, usia lanjut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap beraktifitas. Selama di Perancis, tidak jarang aku mendapati perempuan berusia lanjut yang bahunya sudah sangat bungkuk sedang menunggu metro sendirian. Metro adalah salah satu transportasi publik di Perancis. Aku membayangkan bagaimana perempuan dengan usia renta seperti itu, naik turun tangga stasiun. Tidak semua stasiun di Prancis dilengkapi tangga eskalator apalagi lift. Dari sekian stasiun yang kudapati di Perancis, satu-satunya lift kutemukan di stasiun Bir-Hakeim, stasiun terdekat dari menara Eiffel.

Setelah ngopi dan mengobrol bersama Ibu barista dan kawan-kawannya di Select Haussmann, Paris.

Pertemuan dengan ibu penjaga bar berkacamata itu disebabkan oleh aku yang datang terlambat ke Boulevard Haussmann. Niat awalku, menikmati kemegahan salah satu destinasi perbelanjaan penggila fashion di kota mode, Paris, tapi malah berakhir dengan duduk menikmati segalas kopi di sebuah restaurant keluarga, Select Haussmann.

Select Haussmann letaknya  tak jauh dari The Grand Lavayette yang malam itu secuil dari bagian tokonya yang megah bak istana dijadikan tempat promosi oleh tim film Star Wars. Ini jelang rilis Star Wars: The Force Awakens. Robot-robot Stroomtroopers dipamerkan di pinggiran toko, dan tentu saja dijaga ketat.

Di Boulevard Haussmann saat itu, aku tiba pukul 18.00. Tepat saat pintu pertokoan ditutup. Lampu toko mereka matikan, yang tersisa dan dibiarkan bercahaya hanyalah area depan, tempat beberapa manekin dijejer. Sepertinya untuk menghibur para pelancong sepertiku  yang tidak lagi bisa masuk ke dalam toko. Awalnya, kusangka pertokoan di Paris seperti di Indonesia, tutup jelang tengah malam.  Pertokoan di kota berlabel surga belanja ini nyatanya berbeda.

Meski gagal masuk ke dalam departement store Grand Lavayette yang sangat fenomenal itu, setidaknya koleksi brand semacam Dolce and Gabbana, Prada, Zara, Channel, Louis Vuitton, Yves Saint Laurent atau Christian Dior masih bisa dinikmati lewat jejeran manekin dari etalase kaca toko. Benar-benar hanya window shopping.

Setelah sebelumnya kedatanganku ditolak oleh beberapa kedai kopi di sepanjang blok Boulevard Haussmann. Akhirnya Select Haussmann menjadi pilihan terakhir.  Mereka menolak melayani pelanggan di 30 menit jelang mereka tutup, kecuali untuk pesan bawa pulang. Di kota Paris, hanya  restoran atau klub yang akan hidup hingga tengah malam.

Letak restoran yang namanya mengambil nama dari distrik Haussmann itu berada tepat di sudut jalan, terpisah satu blok dari outlet Zara. Sebenarnya  di blok seberang masih kudapati ada satu resto yang buka, restoran Thailand. Tapi aku tak yakin apakah harganya masih sesuai dengan isi dompetku saat itu. Di Paris, restoran dengan sajian makanan khas dari negara non Perancis hanya menyediakan makanan dengan standar harga 10 euro ke atas. Mau pesan minum saja, minuman apa? Aku tidak yakin di sana ada kopi, dan wine tentunya bukan pilhan.

Aku sumringah saat memasuki Select Haussmann yang interiornya didominasi oleh warna putih dan merah, sementara perabot kursi dan meja seragam hitam. Di atas barnya ada mesin kopi. Bahagia tentu saja. Ini bisa mengobati sakau kopiku setelah hampir seminggu di Perancis tidak mencicipi kafein. Sayangnya, rasa bahagia itu sekejap dikacaukan oleh pegawainya yang menyambutku dari balik bar. Ia yang sama sekali tidak tahu berbahasa Inggris menolak melayani pesananku.

No English here,” jawabnya  saat kutanyai jam tutup restaurant mereka. Aku hanya perlu memastikan waktu buka mereka masih lama.  Kuduga, ia adalah satu dari sekian banyak warga Perancis yang menolak berbahasa Inggris. Dari yang kudengar, masyarakat Perancis sangat bangga dengan bahasa nasional mereka. Bagi mereka, bahasa Perancis jauh lebih terhormat dari bahasa Inggris. Bahasa bangsawan.

Setelah lima menit mencoba, kami tetap gagal berkomunikasi. Aku bingung memberi gerakan apa untuk menggambarkan pertanyaanku. Bahasa isyarat tidak berhasil. Nasib baik, dia masih berniat menolongku.  Satu-satunya kawan kerjanya di restaurant malam itu dipanggilnya. Dia menyerah melayaniku.  Lebih beruntung lagi, kawannya sangat cakap berbahasa Inggris. Ya, ibu itulah orangnya.

Jam tutup toko, letak toilet, dan kode wifi. Semua informasi itu berhasil kudapatkan setelah sebelumnya memesan segelas hot Americano.

No alcohol, pleaseeeeeee!!!

Aku berteriak spontan dari meja di depan bar saat melihat ibu yang sampai saat ini tak kuketahui namanya itu mengambil sebotol wine dari rak kayu di atas kepalanya.

Ibu itu berbalik, kemudian menatapku.

Yes, I’m ordering for some coffee! A cup of coffee without alcohol, Madam!” Ulangku tegas sambil melotot.  Berlebihan memang, tapi kurasa perlu mewanti-wanti dari awal. Aku tidak ingin pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, sendirian.

Belum menjawab apa-apa, ia lantas menertawaiku.

“Hahaha. This wine not for you, but them,” ucapnya di sela tawa, matanya tertuju ke sekelompok pria tua di sampingku. Aku cengengesan. Malu tentu saja. Aku yang terlalu parno dengan alkohol menjadi bahan tertawaan mereka. Tapi di sanalah awal perkenalan kami.

Empat pria berusia lanjut yang duduk sedari tadi di pinggiran bar turut menertawaiku. Aku sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka sebelumnya. Sepertinya ada acara kumpul bersama sambil nge-wine. Rutinitas biasa kaum Eropa kata temanku. Hiburan utama mereka adalah mengobrol sambil minum wine bersama di kafe.

Mereka, para lelaki di pinggiran bar dan ibu barista itu adalah kawan sepermainan sejak di bangku sekolah menengah atas. Komplotan geng sekolah dengan komposisi tiga laki-laki, dan satu wanita. Ya, ibu itu satu-satunya perempuan dalam kelompok pertemanan mereka. Dari cerita mereka, ibu itu memang sudah sangat tomboy sejak remaja. Gaya kelelakiannya masih sangat tercermin hingga di usianya yang kepala enam.

Selama hampir dua jam aku dilibatkan dalam reuni mereka. Hampir setiap pekan ada saja satu hari yang mereka agendakan untuk kumpul bersama. Mengunjungi ibu itu yang sedang mengambil shift kerja di balik meja bar misalnya, ataupun menonton pertandingan basket di sekolah cucu salah satu dari mereka.

“We always do some exercising together,” tukas pria yang duduk paling dekat di sampingku sambil mencomot sepotong buah apel dari hadapannya.

“Untuk orang seusia kami, apapun hal menyenangkan hati akan kami lakukan. Berbahaya untuk orang seperti kami ketika merasa kesepian. Kami ingin tetap bersenang-senang,” tambah pria berkacamata yang duduk paling ujung bar.

Mereka menolak dicap si tua yang tidak bisa menikmati hidup. Mereka mengaku senang dengan semangat anak muda. Semangat itulah yang terus mereka tumbuhkan di dalam diri mereka, meski usia semakin renta.

“Kau adalah gadis muda pemberani,” kata ibu itu dari balik bar setelah aku menceritakan bahwa aku sendiri saja datang dari Indonesia, negeri yang sama sekali tidak dikenalnya. Hanya kujelaskan bahwa Indonesia berada di benua Asia. Ya, Asia Tenggara lebih tepatnya. Sebuah negara dengan banyak pulau yang iklimnya jauh berbeda dari Perancis. Itu saja. Aku sama sekali tidak menceritakan tentang Bali yang kata orang-orang namanya jauh lebih masyhur dibanding Indonesia sendiri. Sebelumnya juga kuceritakan, kedatanganku ke Perancis sebagai wakil Indonesia dalam Unesco Youth Forum.

Kalau saja bukan karena mengejar jadwal keberangkatan bus malam itu, tentu aku akan masih berlama-lama di sana. Tiga jam lagi aku sudah harus duduk di manis di dalam bus yang akan mengantarku menuju Belgia, meninggalkan Perancis. Sebelum itu aku harus ke Marie D Issy, letaknya di luar kota Paris, paling selatan Perancis. Tempatku menginap selama hampir sepekan di sana.

Sebelum aku pergi, kembali ibu itu menyodorkan sebotol wine. “No wine?,” katanya mencandaiku.

Aku hanya tersenyum.

Dia bahkan memberikan potongan harga dari apa yang tertera di struk, 6 euro. Potongan harga memang layak diberikan untuk seorang pelancong yang tidak sadar bahwa visanya bisa digunakan untuk gratis masuk di semua museum dan semua tempat wisata di Perancis. Aku baru tahu malam itu. Di malam terakhir aku di Perancis.

“Ah sial, aku telah menyia-nyiakan lebih dari 35 euro,” aku merungut.

Mereka kembali menertawaiku.

“Terbayar dengan keindahan negeri kami, bukan? Jangan menyesal!” Katanya sambil menepuk pundakku.

Aku mengangguk. Tersenyum lagi, sebelum benar-benar pergi.

***

Ibu itu, akankah ia masih baik-baik saja di sana? Aku sama sekali tidak menyimpan nomor kontaknya. Pembicaraan kami sama sekali tidak didahului dan disudahi dengan perkenalan. Kalau saja kutahu namanya, tentu bisa kutelusuri di daftar korban teror Paris. Obrolan kami berlangsung begitu saja, dalam cerita panjang lebar, tanpa informasi identitas secuilpun. Satu-satunya yang kutahu bahwa dia adalah perempuan menyenangkan, baik hati, tangguh dan mandiri.

Ibu  yang aku tak tahu siapa dan tinggal di distrik mana itu, apakah tidak menjadi korban dari pengeboman Perancis, 13 November hari itu? Masihkah ia berada di balik bar dalam shift malamnya? Apakah anaknya berada di antara 150an korban yang tewas? Ataukah cucunya menjadi bagian penonton sepakbola atau yang sedang menonton konser band rock asal Amerika, Eagles of Death Metal malam itu?

Kubayangkan, ibu itu, juga ibu lainnya di seantero Paris akan mondar mandir seharian di rumah. Sambil menunggui di kamar anak ataupun cucunya, ibu itu akan berjaga dan berdoa semalam suntuk, berharap anaknya segera pulang atau setidaknya mendapat kabar perihal keselamatan mereka.

Ibu siapa di dunia ini bisa tetap tenang, ketika anaknya di luar tanpa kabar, sementara kota sedang berdarah diserang teror?

Bila ibuku cemas luar biasa hanya karena anaknya terjebak hujan di luar. Bagaimana ibu saat anaknya terjebak oleh serangan mematikan yang membabi buta? Masihkah ibu bisa duduk tenang, mengambil minum, meneguknya atau sekadar ke kamar kecil?

Masalah belum selesai, bahkan ketika para Ibu di Paris masih diberi nasib mujur, anak mereka selamat kembali pulang. Akankah kemudian mereka seperti ibuku, mengomeli anak mereka sepanjang hari, mencubitnya di paha persis sepertiku? Ataukah para ibu di Paris akan melarang anak mereka menonton laga sepakbola atau pertunjukan musik manapun?

Mengurungnya  di rumah. Tidak memberi izin ke mana-mana.

Bagaimana mereka menghilangkan trauma dan ketakutan di atas bayang kematian?

“Kau harus menikmati apapun yang kau dapati. Dari masa muda hingga tuamu nanti, nak,” aku masih ingat pesan ibu itu setelah aku mengambil beberapa  foto kami bersama. Aku, dia, dan kawan-kawan lelakinya.

“Semoga kau selamat kembali pulang. Ke negerimu,” sambungnya.

Ibu itu, juga ibu lainnya di Paris semoga baik-baik saja.

                                                                       Makassar, Jumat 20 November 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s