Makan

Eat food. Not too much. Mostly plants.”

Michael Pollan, In Defense of Food: An Eater’s Manifesto

“Makan di mana, gaes? Makan apa? Mie goreng, nasi goreng, bakso atau nasi kuning?”

Itu adalah pembuka percakapan atau setidaknya pertanyaan paling standar, hampir selalu dilafalkan saat jam makan tiba. Entah pagi, siang, atau malam.

Kemudian akhirnya anda akan diterpa kebingungan untuk pertanyaan seperti itu. Pilihan makan apa dan di mana memang hampir selalu membingungkan bagi mereka yang memiliki kuasa untuk memilih makan apa saja, di mana saja.

Ya seperti itu, terlalu banyak pilihan akan membuatmu bingung untuk menentukan pilihan.

Kita memang adalah mahluk pemakan. Pelahap apa saja. Apalagi saat lapar tiba. Menemukan ikan goreng yang telah terbujur dingin sejak 5 jam lalu di bawah tudung saji akan menjadi anugerah luar biasa saat pulang ke rumah dan sedang keroncongan hebat.

Makan adalah aktifitas paling lampau dan masih tetap berlanjut hingga sekarang. Selama masih ada mahluk hidup bernama manusia, maka aktifitas makan akan tetap abadi.

Bila mahluk hidup lain ada yang memilih jadi karnivora, herbivora, maka manusia adalah seorang omnivora.

Sejauh yang kuingat dari pelajaran Biologi yang kuterima saat di sekolah dulu, karnivora adalah sebutan untuk mahluk hidup pemakan daging, sedangkan herbivora untuk mereka yang mengonsumsi tumbuh-tumbuhan saja. Dan cadaslah mahluk Tuhan yang bernama manusia. Yang diberi kekuatan super, yang katanya berakal dan mampu berpikir. Ia adalah pemakan segala atau mahluk omnivora.

Makan mungkin adalah kegiatan sederhana saja, memasukkan makanan ke dalam kerongkongan. Perut kenyang, kemudian sudah. Ya itu untuk anda yang malas berpikir.

Sesungguhnya, proses makan telah jauh dimulai sebelum ia tiba di hadapan anda dan belum selesai ketika perut anda kenyang.

Bagi antropologi misalnya, kebiasaan makan sebagai sesuatu yang sangat kompleks karena menyangkut tentang cara memasak, suka dan tidak suka, serta adanya berbagai kepercayaan atau religi, pantangan-pantangan dan persepsi mitis/tahayul yang berkaitan dengan kategori makan: produksi, persiapan dan konsumsi makanan (Foster & Anderson:1986:313)

Karena sangat kompleksnya, aktifitas makan ini dianggap pula sebagai pertarungan gengsi.  Apalagi buat mereka, para the consumer society. Buka saja akun media social anda, lihat mayoritas foto makanan yang teman-teman anda unggah. Isinya tentu bukan aci goreng seharga Rp.1000 per tiga biji atau es cendol yang seporsi Rp. 5000 yang dijajakan di pinggir jalan oleh Bapak tambun dengan gerobak yang didorong tepat saat siang sedang bakar-terbakarnya. Ada pertarungan gengsi untuk setiap makan yang anda tunjukkan ke khalayak. Memenangkan status.

Selain hewan, manusia adalah mahluk yang taunya hanya mengonsumsi saja, sama sekali tak mampu menghasilkan makanannya sendiri. Mereka adalah konsumtif sejati. Bayangkan berapa penduduk di bumi saat ini. Berapa mulut makanan yang harus disediakan alam untuk menuhi kebutuhan makan manusia. Si mahluk yang katanya paling istimewa tapi justru paling dependen.

United Nations Environment Programme (UNEP), lembaga lingkungan yang berada di bawah naungan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis fakta menarik. Katanya pada tahun 2050 mendatang populasi penduduk bumi akan mencapai 9,6 miliar jiwa. Dengan estimasi pertumbuhan penduduk sekian banyak, maka akan diperlukan dua tambahan planet lagi, selain bumi untuk menampung pertumbuhan penduduk.

Lucu membayangkan kenyataan seperti ini. Semakin banyak mulut yang harus diberi makan, dibutuhkan kebutuhan pangan yang lebih besar lagi tentunya, peternakan yang lebih banyak untuk kebutuhan daging manusia, tangkapan laut dengan kuantitas semakin besar, serta lahan pertanian lebih besar pula.

Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian ini, maka lahan hutan akan semakin menyusut. Akan terjadi pembukaan lahan di mana-mana, penebangan pohon semakin marak. Kalau seperti ini, lah lantas suplai oksigen akan datang dari mana?

Sementara individu berusaha untuk memenuhi kebutuhan makannya, negara juga sedang mengejar status dari terbelakang menuju status negara maju. Sebagai usaha untuk naik kelas tentu akan dibutuhkan percepatan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan teknologi. Bukan itu saja, kebutuhan protein masyarakat juga harus terpenuhi. Itu berarti dibutuhkan pasokan energy yang jauh lebih besar lagi.

Walt Whitman Rowtow, seorang ahli ekonomi dan politikus yang bekerja kepada National Security Advisor yang juga penasihat presiden J. F Kennedy dan Lyndon B. Johnson  kala memerintah mengatakan bahwa sebuah Negara less developed harus meninggalkan sektor tradisionalnya untuk maju menjadi negara terdepan. Selain itu syarat berikutnya adalah kemampuan konsumsi masyarakatnya harus berkembang pesat. Hal ini dia ungkapkan dalam bukunya The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto .

Konsumsi yang semakin besar, gaya hidup semakin meningkat. Masyarakat akan meningkatkan gengsi makanan mereka. Mereka menjadi ingin makan seperti makanan saudaranya. Kebutuhan protein hewani yang meningkat, artinya permintaan daging akan semakin besar.

Sementara yang diungkapkan oleh para peneliti di Bard College di New York, Yale University di Connecticut dan Weizmann Institute of Science di Rehovot, Israel, bahwa daging sapi menyebabkan lebih banyak polusi, menghasilkan lima kali lebih banyak emisi gas rumah kaca, dan pupuk yang bahan asalnya dari kotoran sapi mengandung enam kali lebih banyak nitrogen daripada dari hewan lainnya. Pengembangbiakkan sapi juga perlu air 11 kali lebih banyak daripada untuk penghasilan protein lain.

Bakalan seperti apa jadinya bumi di tahun 2050 dengan kebutuhan daging yang akan meningkat pesat?

Beberapa kelompok masyarakat telah menumbuhkan ide untuk pengendalian konsumsi seperti ini. Ada yang memulai dnegan membatasi kebutuhan makannya. Membatasi hasrat konsumsi daging mereka. Seperti yang dilakukan oleh kaum vegetarian.

Pythagoras, sang fenomena penemu teorema Pythagoras, berpendapat bahwa dengan memakan daging binatang maka jiwa manusia akan terkontaminasi dan menjadi liar. Itu sebab, hingga pertengahan abad ke-19, vegetarian dikenal sebagai Pythagoreans .

Dalam ajaran Budha, anjuran untuk menjauhi daging ini karena hewan dipercaya sebagai reinkarnasi manusia. Sementara dalam ajaran Islam, beberapa hewan dianjurkan juga untuk dijauhi, begitupun Hindu.

Menurut Kitab Kejadian (1:28) Tuhan menciptakan hewan termasuk manusia pada hari ke enam, dan saat itu diamanatkanlah manusia agar “Be Responsible for fish in the sea and birds in the air, for every living thing that moves on the face earth”. (Penterjemahan Al Kitab versi The Message).

Bahwa manusia mestinya menjadi responsible, bertanggung jawab bukan mengeksploitasi fauna untuk kebutuhan makan mereka. Tepat di ayat berikutnya barulah Tuhan menyatakan bahwa benih tumbuhan berbiji dan segala pohon yang buahnya berbiji diberikan kepada manusia untuk menjadi makanan atau dikonsumsi.

Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan di Nuffield Department of Population Health, University of Oxford, Oxford, United Kingdom. Menyatakan bahwa mereka yang menjalankan pola hidup vegetarian lebih sedikit beresiko mengidap penyakit kanker. Dibanding mereka pemakan ikan terlebih daging. Persentasinya hingga 30 %.

Hingga kemudian, gaya hidup vegetarian menjadi habit bagi sebagian masyarakat.  Tapi perlu diingat, menghilangkan kebutuhan daging juga akan menimbulkan kekacauan dalam tubuh kita.  Dibutuhkan asupan protein hewani yang cukup untuk menunjang aktifitas sehari-hari. Tubuh juga mesti seimbang, kecukupan karbohidrat, magnesium, vitamin, kalsium dan protein harus dipertimbangkan. Tanpa itu, tubuh akan mengalami chaos.

Seperti yang ditunjukkan dalam Tumpeng Gizi Seimbang (TGS) yang menjadi acuan pola gizi seimbang perorangan. Di puncak teratas dibutuhkan minyak, gula dan garam dengan porsi secukupnya, sementara protein hewani dan nabati harus tercukupi seimbang, begitupun kebuthan sayur dan buah, karbohidrat, serta air 8 gelas.  Selain itu, terdapat prinsip gizi seimbang yang lain, seperti manjalankan pola hidup bersih, aktivitas fisik dan olahraga teratur serta menjaga dan memantau berat badan.

TGS ini diaggap lebih mewakili kebutuhan asupan gizi tubuh setiap orang, menggantikan prinsip 4 sehat 5 sempurna yang diajarkan sejak SD dulu. Untuk gambar TGS dan penjelasannya dapat anda ambil di sini

Jadi, tidak semestinya anda sibuk dengan satu kebutuhan tubuh saja, bukan vitamin, karobohidrat atau kebutuhan protein saja. Mesti seimbang dengan kebutuhan kalsium, mineral dan magnesium, serat. Dimana itu semua bisa didaptkan dari tumbuh-tumbuhan, yakni sayur-mayur.

Sesuai TGS, kebutuhan makan sesuai gizi seimbang membutuhkan asupan protein, karobohidrat, vitamin A, C dan E , serta magnesium. Makan memang menjadi sangat kompleks.

Cukup disadari, menjadi negara maju berarti kebutuhan makan akan menjadi sangat besar. Negara harus memastikan kebutuhan pangan rakyatnya. Pemerintah harus selalu memastikan tersedianya pasokan kebutuhan pangan di pasaran. Tapi meski begitu, tidak berarti kita menjadi dependen untuk memastikan tersedianya kebutuhan pangan kita. Kebutuhan pangan sendiri. Minimal di rumah anda masing-masing.

Setiap rumah tangga mestinya mandiri untuk meencukupi kebutuhan pangannya. Seminimal mungkin untuk kebutuhan sayurnya. Saya tahu, anda sudah sangat berkecukupan untuk membeli saja sayur di supermarket. Dari lemari berpendingin, yang telah diawetkan sekian hari, dan anda sama sekali tidak tahu menahu campuran pestisida atau pupuk kimia apa yang telah tercampur di dalamnya.

Kebutuhan sayur adalah hal urgent. Bukan daging saja. Bila saat kecil dulu Ibu anda akan sangat memaksa untuk memkan sayur, itu sudah sangat tepat. Tapi mesti kita ingat sekadar sayur saja belum cukup sehat. Sayur tanpa campuran pestisida dan bahan kimia lainnya adalah sayur ideal, sayur organik.

Jadi, bagaimana memastikan tercukupinya kebutuhan vitamin, kalsium dan mineral setiap hari di rumah anda?

Ya, dengan menananam sendiri. Tak perlu memikirkan lahan sebesar apa untuk kebutuhan tiga mangkuk syur di rumah anda untuk konsumsi setiap hari. Cukup dnegan memanfaatkan halaman rumah anda, atau pun tembok rumah untuk bercocok tanam cabai, bayam, kangkung, selada, ataupun tanaman holtikultura lainnya.

Beberapa metode seperti hidroponik, aquaponik adalah inovasi bercocok tanam untuk mengatasi keluhan keterbatasan lahan untuk anda, masyarakat perkotaan yang mengalami krisis ruang terbuka. Bahwa lahan semestinya memang tidak menjadi penghalang dari aktifitas farming.

Ya, berangkat dari ide tersebut, di tahun 2011 lalu di Makassar sebuah komunitas yakni Makassar Berkebun akhirnya dibentuk. Mereka ini yang ingin belajar dan menyebarkan virus urban farming. Bila dulu anda berpikir bagaimana mungkin melakukan aktifitas bercocok tanam di sebuah kota bernama Makassar yang sedang merangkak menjadi kota megapolitan dengan gedung dan ruko di mana-mana serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terbatas.

Seperti kampanye yang dilakukan komunitas ini, bahwa berkebun bisa dilakukan di mana saja. Tidak harus di lahan dengan luas berhektar-hektar. Tapi dari halaman rumah, anda bisa mencukupi kebutuhan pangan anda, seminimal mungkin sayuran.

YA saat sayur sudah bisa anda penuhi, maka tidak perlu panik saat harga cabai melambung, ataupun kebutuhaan pangan lain. Kalau setiap rumah bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri atau minimal setiap kota bisa menjaga pasokan kebutuhan pangan masyarakatnya, bukan kota anda akan menjadi masyarakat mandiri pangan.

Tidak mudah menularkan gaya hidup urban farming ini. Terlebih lagi aktifitas bercocok tanam yang diibaratkan sebagai aktifitas desa, so traditionally.  Sangat tidak modren dan kekinian.

Tapi yang perlu anda sadari, kalau anda menganggap kebutuhan makan adalah kebutuhan paling fundamental manusia, maka aktifitas menanam mestinya dikekalkan.

Iklan

2 thoughts on “Makan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s