surat sederhana untuk kamu, suamiku kelak

Hai kamu!

Tahukah kamu, apa yang sekarang ini sedang aku lakukan?

Menjalani hariku dalam penantian panjang menunggumu, aku hanya sibuk dalam segala hal yang bisa memantaskan diriku untuk menjadi pendampingmu kelak. Hanya itu.

Menjadi seorang perempuan yang mampu mengutuhkanmu.

Menjadi istrimu, aku dituntut harus bisa menjaga kehormatan diriku dan keluargaku. Tahukah kau? Ini sungguh sangat berat. Menjaga kehormatanku sebagai perempuan saat ini sungguh tidak mudah. Aku harus selalu awas dengan lelaki yang berniat buruk padaku. Akupun harus selalu menghindari nafsu yang bisa menjerumuskan.  Tahulah kau bagaimana godaan yang datang di zaman sekarang. Tapi aku akan selalu berusaha, karena yakinku, hanya perempuan suci yang bisa menjadi istrimu kelak.

Akupun harus selalu mempersibuk diri dengan torehan prestasi agar kelak hanya rasa bangga yang kau rasakan ketika memperkenalkanku sebagai istrimu kepada siapapun, kepada khalayak dunia. Tak boleh ada rasa malu dan ragu sedikitpun terbersit di kepalamu.

Akupun harus bisa menjadi ibu dari anak-anakmu. Ibu yang sesungguhnya, yang mencintai anak-anakmu melebihi nyawanya sendiri. Yang selalu mengajarkan cinta kepada mereka. Yang mengajari mereka untuk selalu menghormatimu. Mendengarkan apa katamu. Aku harus mampu mendidik mereka agar kelak bisa membanggakan dirimu.  Aku harus bekerja keras. Aku tak ingin terjerumus dalam kebanggaan bahwa surga untuk mereka berada di bawah telapak kakiku. Tapi aku harus memantaskan diri kepada Tuhan, semoga aku termasuk salah seorang ibu yang bisa dikabulkan doanya oleh-Nya.  Tugasku adalah mendoakan mereka dalam sujud-sujud di pagi, siang dan malamku.

Aku juga harus bisa menjadi temanmu. Mendengarkan segala apa yang kau resahkan. Membantumu dalam segala daya dan upayaku. Menemanimu dalam segala gelisah dan bahagiamu. Kita akan tertawa bersama, menyaksikan matahari terbit dari jendela kamar kita, dari ruang tengah di rumah kita yang selalu hangat oleh cinta. Menemanimu dalam sujud-sujudmu. Dalam doa yang panjang, semoga kelak keluarga kita selalu mendapat rahmat dari-Nya, pemilik segala rahmat terindah.

Lebih dari itu saya juga harus mampu menjadi teman bagi semua teman-temanmu. Aku hanya  tidak ingin kelak teman-temanmu kesal kepadaku hanya karena aku yang tidak mau berkompromi dengan kesibukanmu bersama mereka. Aku, kamu dan teman-temanmu adalah kelompok solid yang selalu saling mendukung.

Dan yang harus kuingat adalah aku juga harus mempersiapkan diri untukmenjadi bagian dari keluargamu. Menjadi anak dari kedua orang tuamu. Mendoakan mereka layaknya Ayah Ibu kandungku sendiri. Berbakti kepada mereka dalam setinggi-tingginya pembuktian bakti. Menjadi saudara dari semua saudara-saudaramu. Mengerti keadaan mereka dan selalu hadir ketika mereka butuh. Menjadi keponakan yang hormat pada paman dan bibi-bibi mu.

Ada banyak hal lagi yang harus kulakukan untuk memantaskan diri menjadi pendampingmu kelak. Bukankah lelaki baik hanya akan mendapatkan perempuan baik. Untukmu, tanpa lelah aku akan selalu berusaha memantaskan diri.

Entah, di manapun kamu berada.
Saat ini mungkin kita hanya bisa saling mendoakan. Tapi, itu sudah cukup untuk menguatkan. Aku mencintaimu, suamiku kelak.

(Kapanpun kamu membaca ini, kamu hanya perlu tahu kalau aku menulis ini dengan segenap cinta dan kasih, hanya untukmu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s