Menjadilah Pancasila, Jangan Menjadi Saya!

*Sebuah refleksi setelah mengikuti #TemuBlogger Aktualisasi Nilai Pancasila

Ibu saya sangat bangga kepada saya. Dia selalu memuja puji saya di hadpaan teman-temannya. Katanya saya ini pintar selalu update. Ibu setiap mendengar isu sesuatu kakan selalu bertanya kepada sya. Bahkan dia mengaku takjub, dari mana saya tahu tentang semua.

Bahkan ketika sore kemarin saya menceirtakan tentang presiden yang kena bully warganya hanya karena sepatu olahraga yang digunakannya. Lagi-lagi Ibu takjub, bagaimana hal tentang presiden speertti itu bisa syaa ketahui. Informasi yang tidak didapatkan Ibu dari televise yang ditontonnyua hampir di ¼ harinya.

Ibu, setiap melihat memegang handphone akan bertanya apa yang syaa kerjakan. Ibu hanya tahu tentang mengirim menerima teks, kemudian melakukan dan menerima telepon. Ibu sering menceritakan kepoada teman-temannya tentang media social yang saya lakukan tempat mendapatkan oinfromasi dari presiden, smapai saudara kami yang jauh. Yang tidak bisa dihubungi Ibu akrena biaya telepon international yang mahal.

Ibu yang sangat bangga kepada saya, mungkin tidak tahu bahwa sebagian yang saya lakukan di media sosial tidak selalu benar, bahkan pernah melakukan perundungan kepad salah stau teman saya di media social. Saya pernah menjelakkan anak temannya,. Ibu tidak tahu itu.

Bahkan ikut mengomentari sepatu presiden, meneriaki kafir, meneriaki anti toleransi ke orang-orang yang tidak saya sukai. Ibu mungkin tidak tahu bahwa saya tergabung dalam grup calon tertentu menyerang teman-teman saya yang tidak memiliki kesamaan pilihsn politik dnegan saya.

Mungkin Ibu tidka tahu, anak lemah lembut yang setiap hari diemongnya, adlaah sosok kasar menyeramkan di media social.

Ya, mungkin saya adlaah kamu juga.

Ya, seberapa sering sih kita merasa selalu paling tahu? Melakukan bully atau perundungan ke orang lain di media social entah kita kenal atau tidak. Melihat mereka sebagai musuh yang harus dimatikan dengan ucapan-ucapan kasar tanpa belas kasih. Lihat saja kasus Ivi, seorang anak yang tulisan ‘warisan’nya yang viral kemudian isu plagiat, membuat dia harus menerima banyak makian di media social.

Ahh, keslalahan orang memamng paling enak dikomentari, syaa mersa sellau paling benar tanpa pernah bercermin bagaiaman kalau kita di posiisi anak yang belum mengnjak 17 tahun tersebut.

Mungkin saya adalah kamu.

Minggu, lalu MUI baru saja mengeluarkan fatwa tentang setiap umat muslim yang diharmakan bermedia social untuk melakukan fitnah, ghibah, bullying dsna menyebarkan informasi hoax.

Fatwa Mui yang dihadirkan untuk melengkapi UU No11 tahun 2008, kata Skrettaris MUI Sulsesl, Bapak Prof. A. M Ghalib  yanh hadir dalam kegiatan  Flash Blogging #Temu Blogger Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial”, Jumat,16 Juni di Clarion Hotel Mkassar

Itu belum cukup, apa yang saya lakukan sleama ini bahkan telah mencederai nilai #Pancasila yang telah ditekankan Ibu, Guru juga Bapak. Betapa kecewa mereka selama ini bila mengetahui apa yang saya lakukan. Seorang anak bangsa yang telah mencederai nilai dan ideology bangsanya.

Pancasila yang harus dijaga bukan hanya nilai-nilai di dlaamnya, tapi juga harkat dna martabat sebagai ideology kita bernegara, kata Heri Santoso, kepala pusat Studi Pancasila UGM  di acara tersebut,

DI acara serupa, Bapak Handoko perwakilan tim Komunikasi Presiden bahkan membuka mata saya. Selama ini hanya tahu presiden dari para selebtwit yang kadang memberi penilaian tidak fair kepad apresiden. Ternyata seperti ini saya, seenak hati berkomentar di media social, tanpa pernah mengenal presiden.

Jangankan presiden, ideologi sjaa syaa cederai.

Jika orang seperti saya belum dicerahkan, menjadi banyak jumlahnya, lantas speerti apa Indonesia ke depan. Masihkah ada Pancasila 10, 20, 30 dan 100 tahun lagi?

Mungkin saatnya kamu berubah. Jangan menjadi saya.

IMG_20170616_151353
Bapak Handoko, Tim Komunikasi Presiden dalam #TemuBlogger #Pancasila, Jumat 16 Juni 2017

 

Our Happy Time in Melia Hotel

Saya sudah lama merindukan untuk liburan. Piknik dan merasakan having fun. Iyah kesibukan dua minggu di awal Oktober kemarin benar-benar membuat fisik dan pikiran saya lelah. Butuh liburan untuk menyegarkan badan dan pikiran. Saya butuh piknikkkkk. Halaah.

Kemarin berkali-kali saya menyusun rencana liburan bersama Tari Artika, sahabat saya, tapi berujung kecewa dan gagal. Ada saja halangannya. Dari bentrok kegiatan  antara saya dan Tari, kadang saya yang sibuk, Tarinya yang lowong. Kadang juga sebaliknya. Cukup ribet kami mengatur jadwal bersama. Tapi yang paling sering, kami juga sama-sama sibuk. Belum lagi jam kerja saya di saat weekend. Sungguh liburan hanya ada di bayang-bayang.Read More »

Dompet Canggih Sakuku

Bila berselancar ke dunia maya, saya suka iseng membuka website-website teknologi. Ya sekadar iseng. Hanya ingin tahu update perkembangan teknologi.

Terakhir setelah berselancar pekan lalu, saya tahu bahwa saat ini Institut Teknologi Massachusetts sedang mengembangkan sebuah kamera pembaca buku. Kamera ini memungkinkan kita membaca buku yang tertutup tanpa membuka halaman demi halaman. Kamera ini kabarnya dikhususkan untuk peneliti dalam membaca buku teks dan perkamen-perkamen kuno yang sangat rentan bila disentuh.

Saya sungguh takjub, betapa teknologi saat ini telah berkembang jauh sangat pesat. Berlari kencang.

Ya, teknologi memang semakin canggih, tidak hanya dikhususkan untuk para peneliti tapi juga untuk penggunaan sehari-hari.

Seperti itulah mestinya teknologi hadir, semakin memudahkan hidup manusia. Bukan malah merusak.

Satu yang saya suka, teknologi telah membantu hidup kita. Selalu saja ada kejutan-kejutan dari perkembangan teknologi. Salah satu contohnya, dulu setiap ingin keluar misalnya hangout bersama teman-teman, maka barang wajib yang harus kita bawa adalah beberapa lembar uang, atau paling tidak kartu ATM (Anjungan Tunai Mandiri) yang telah berisi saldo, atau paling tidak lagi selembar kartu kredit.Read More »

Dear PKM, Terima Kasih Telah Mempertemukan Kami

Kita tentu mengerti, selalu ada banyak cara bagaimana semesta bisa mengatur perjumpaan. Tapi tentang ini, saya mesti menghatur terimakasih untuk Pesta Komunitas Makassar.

Adalah Pesta Komunitas Makassar (PKM) di tahun 2015 yang menjadi awal musababnya. Saat itu kami berdua berada di jajaran panita. Dia, dari Komunitas Pencinta Iguana (KPI) dipilih sebagai koordinator untuk divisi Publikasi dan Dokumentasi (Pubdok). Sementara saya yang saat itu mewakili Makassar Berkebun, diberi amanah untuk mengatur pendanaan atau fundraising.

Ini mesti saya ungkapkan, bahwa apa yang terjadi pada kami, bukan cinta pada pandangan pertama. Tapi entah bagaimana cara. Sungguh ajaib dan misteriusnya cara kerja komunikasi dan pertemuan, akhirnya bisa semakin mendekatkan kami. Dari rapat satu ke rapat yang lain, dari pertemuan ke pertemuan berikutnya. Hingga kemudian kami bersepakat untuk bersama. Kalau boleh, atau ini mungkin akan dianggap berlebihan, bahwa kami adalah bentuk lain serta nyata dari hasil sinergi, harmoni dan aksi, tagline dari PKM kala itu.Read More »

Blogging

Kelas Perdana_4923.
Kelas Menulis MAM Perdana digelar 17 Juni Lalu

Mendapat tugas membuat tulisan tentang ihwal menyenangi kegiatan menulis; perihal mengapa (mau) ngeblog, dari Kelas Menulis MAM, membuat saya berpikir kembali. Mengapa saya memilih menulis ataupun ngeblog? Apa alasan saya sesungguhnya? Seriuskah saya menekuni kegiatan ini?Read More »

Cemas Ibu dan Teror Paris

Saat hujan turun, ibuku menjadi yang paling cemas di rumah. Bukannya memilih tidur lelap di kamarnya atau berlindung di balik selimut saat hawa dingin yang ditawarkan oleh hujan lebat. Ibuku memilih menumbuhkan kecemasan dalam dirinya. Satu per satu kamar akan diperiksa, mencari tahu keberadaan anak-anaknya. Memastikan kami semua berada di rumah. Baru setelah itu dia merasa tenang. Aman.

Read More »